Senin, 28 April 2014

Kamu boleh pergi
Bukan, bukan pergi dimana kau mementahkan aku begitu saja, bukan seperti itu
Tidak se-main-main itu
Bukan juga pergi kau ditelan bumi di lumat Neraka Jahannam dibakar jadi arang di putuskan uratmu biar memancar segala yang mestinya mengalir di nadimu
Atas dasar dosamu selama ini padaku
Sungguh aku bukan pendendam, sayang
Sebagaimanapun kamu menyakitiku
Menjadikanku serigala gila meraung-raung tiap malam
Memimpikan namamu
Melupakan Tuhan
Sebagaimana kamu mencoba membunuhku
Mencongkel jatungku yang tinggal seperempatnya kini bolong kosong kandungnya
Tahu rasanya?
Aku ingin mati tanpamu
Tapi tanpamu jugapun aku ingat Tuhan
Kamu boleh pergi
Hilang bersama kata-kata emperanmu
Mana ada sampah rongsok dibayar duit
Kamu boleh pergi
Biar tak berdosa aku
Yang sudah biarlah sudah
Kubilang aku bukan pendendam
Memang bukan, sayang

Tapi memaafkan aku tak bilang

Sabtu, 15 Februari 2014

YOYOYO
its been a while since the last time gue ngepost ngepost alay gitu yes
knp org2 lg suka ngomong yes

Okay jd gini WAAA kangen ngedh guize sm blog aqu du sampe lebay yakhan

Ya pokoknya baru ada ilham lagi buat lanjutin si Damar setelah nanya nanya nisa olive rosie dan fira tentang apa kelanjutan yg harus gue tulis dan okay gue kira ini lah waktunya ya

BTW gue baru denger rumour Taylor bakal ke Indo woy!!!
BAKAL EPIC BANGET WOYYY YAKEEENN AQUUU
sok sokan epic

Yaudah lgsg saja k

Damar
Kayaknya gue udah kelewat sakit
Atau otak besar gua udah mulai bekerja kurang baik
“Mar? Kok kamu ngelamun? Hai? Ini aku lho akunya di sini. Hai?”, Kutepis tangan flamboyan Karin dari depan wajahku. Ganggu.
“Duh, Damar! Sakit…”, halah, naïf sekali tampang cewek ini. Minta maaf sama dia aja gue ogah. “Lo tunggu sini bentar, gue ada urusan. Ceritanya kita delay dulu”, gue ngeloyor pergi, pakai gaya melengos cewek ABG di sinetron biar dramatis. Ini jauh lebih penting daripada mendengarkan Karin cerita sambil termehek-mehek, seperti gak sadar dulu dia pernah menohok gue sama sakitnya dengan harga yang telah dibayarkan padanya sekarang. Makan tuh sayang, basi.
Mata gue normal, masih indah tanpa kacamata.
Dan di depan gue terpampang siluet cewek yang tadi pagi gue jadikan harta karun di hati yang sepi dan tandus ini.
Kaki gue seperti berjalan kearahnya, mengejar takdir, kali. Tapi nyali gue belum cukup untuk menyapa. “Harus di cukup-cukupin!” kata Iwan, sih, gitu. Sayang, gue gak nekat. Gak, gak, bukannya gak nekat, gue memang bukan tipe cowok pemberani. Lebih disayangkan lagi, Iwan memang dasarnya sudah sakit jiwa. Tipsnya gue rasa nggak bakal manjur.
Bisa gue rasa aura membunuh Karin yang sedang duduk bête, merasa nggak dianggap. Gue langkahin kaki gue, makin dekat. Memohon do’a kepada Tuhan dia cukup punya hati untuk seenggaknya membalas “hai” gue. Syukur-syukur mau minta maaf buat cecarannya tadi pagi yang, jujur, ngena banget. Penciuman gue belum sempat mencapai aroma vanilla, dari belakang, dengan kecepatan 236 mph macam TGV Reseau buatan Prancis, seorang cowok tampan menepuk pundaknya. Pakek acara kasih-kasih bunga, lagi. Parah. Gadis pujaanku tersenyu nais, pipinya merona seperti tak kuat menahan rasa malu dan senang. Sekalian jerit-jerit aja kalau perlu, biar sakit sekalian hati gue. Pernah sekali gue merasakan perasaan yang sama sakitnya. Di tempat yang sama, tenda nasi ini. Ketika gue dengan sok manisnya ingin membuat kejutan untuk Karin. Sengaja tanpa memberi kabar, gue tunggu dia di tenda. Dia selalu bilang, ini tempat kami berdua. Sebobrok-bobroknya, tenda ini tetap istana. Dan gue benar-benar merasa hangat, tubuh gue merealisasikan sampah yang terus-menerus Karin timbun di otak gue. Jika pusat tubuh gue saja sudah menerima teori-teori Karin tentang tenda nasi uduk “kami” ini, mana bisa gue melepaskan diri dari rutinitas terus mempercayainya.
Balik ke cerita pahit gue.
Iya, gue benar-benar tunggu dia. Dengan kemeja yang dulu dia pilih buat gue waktu kami pertama jalan. Yang dari awal orang-orang udah bilang gue gak pantes buat memakainya. Dia bilang jangan denger orang-orang. Dia bilang gue ganteng dengan baju ini dan orang-orang cuma iri. Dia jadiin gue bahan cemoohan. Gue anteng nunggu dia, yakin dia akan kemari. Dia benar datang, dengan percaya diri gue pikir, ini memang sudah takdir, firasat gue selalu benar jika tentang dia. Sampai tiba-tiba, seorang cowok setengah berlari mengikutinya dari belakang, memasukan kunci mobil ke kantung jeansnya, dan lalu menggandeng Karin. Karin menerima tangannya, lalu mereka saling menatap, sama-sama tersenyum hangat.
Praktis hati gue hancur.
Karin mengecek keadaan, dan matanya bertemu mata gue. Mulutnya membentuk pertanyaan,
“Ngapain lo disini?”
Gue mematung. Efek sakit hati ternyata mirip lumpuh, ya.
Karin membuang muka, mementahkan gue sejadi-jadinya. Tanpa diminta, gue keluar dari tenda, jalan secepat yang gue bisa. Lo tau rasanya luka yang dikasih garam? Tau rasanya nggak sengaja minum air aki? Perih, panas. Gue hilang akal, memutar kembali kata-kata manis yang sempat keluar dari bibirnya, janji janji yang ia buat, apakah gue pernah berbuat salah? Apakah memang gue memiliki banyak kekurangan sehingga patut dimentahkan? Gue ingat-ingat kembali setiap cetusam-cetusan intermezzo Karin setiap gue tanya siapa cowok yang baru saja menelponnya.
Dari situ gue sadar betapa busuk cewek ini,

dan betapa bodoh keputusan gue untuk percaya bahwa dia enggak.

Senin, 16 September 2013

Ok.
Jadi ada yang minta gue nerusin cerita alay
yaudahlah berhubung gue gamau menampilkan kudeta dan perseturuan hati nurani dengan labilnya ekonomi, ya gue ikutin aja toh. oke toh.


Raisa
Aku dengan indahnya berdiri didepan kelas, nggak di beri izin masuk oleh Pak Agus. Tadinya aku berniat menusuk-nusuk ban motor Vega Z nya pakai pensil mekanikku, tapi kayaknya “nggak banget” deh, lagipula pensil mekanikku terlalu berharga dibanding dendamku pada Pak Agus dan keinginanku untuk menjadikan motornya sebagai korban.
“Lo bener-bener ngga boleh terlambat lagi, deh. Tadi mood dia langsung hancur gitu waktu tau ada yang berani terlambat padahal dia udah di kelas. Pokoknya horror abis.” Aku menoleh ke arah Shinta, bukan, kalau masalah betapa seramnya Pak Agus, aku sudah sangat mengerti. Yang membuat aku nggak ngerti adalah kata-kata “horror abis”. Aku belum pernah mendengar kata-kata tersebut keluar dari bibir seseorang. Mungkin itu bahasa g-a-o-l lain yang semestinya aku pelajari. “Terus gimana, nih? Aku juga takut tapi kesal juga sih di permalukan cuma gara-gara telat sebentar.” Aku dan Shinta tengah berjalan di koridor, Ibu Kania belum juga datang, jadi apa salahnya cari angin sebentar? “Ya, menurut gue sih, lo harus minta maaf.” Sebentar aku menimbang-nimbang saran dari Shinta. Melihat sol sepatu Pak Gus saja, nyaliku sudah kendor. Apalagi di suruh minta maaf, bisa-bisa aku pingsan terus wafat di tempat. Yang ada bukan bahagia, aku malah mati sia-sia.
“Kayaknya adrenalin ku ngga sebesar itu deh, Shin”, Aku menyambut saran Shinta, sedangkan dia hanya mangut-mangut seakan sudah mengetahui jawabanku jauh sebelum aku mengatakannya. “Kalau gitu, lo harus bisa menarik perhatian dia dengan cara yang paling ekstrem, dapet nilai sempurna selama satu semester, hahaha”, Benar juga kata Shinta. Walaupun disertai tawaan gak jelas seperti itu, inti dari kalimatnya sangat jelas. Aku harus mendapat perhatian Pak Agus sebelun riwayatku di SMP tamat sebelum mulai berjuang.
“Eh iya, baidewei anewei baswei eaa”, aku mecoba menyaring apa yang Shinta katakan, nggak ada harapan. Aku benar-benar nggak ngerti. Melihatku kebingungan, air muka Shinta berubah sedikit kecewa. “Ah iya, gue lupa lo kan nggak gaul”, memang bukan jawaban yang aku harapkan, tapi aku agaknya senang;setidaknya Shinta tau aku memang nggak gaul tapi disisi lain tetap mau bergaul denganku. “Yaudah, gini, tadi sebelum masuk kelas, lo di cariin sama Cakra. Itulohhh yang lo sering omongin duuhh emang mukanya gak ganteng-ganteng banget sih tapi senyumnya itu kok manis banget yaaa duuuhhh”, Shinta memang berlebihan. Berteman dengannya selama 3 tahun terakhir membuatku tau hal-hal paling buruk di diri Shinta yang mungkin tak terlihat diawal tatap, namun aku berusaha menutup mata dari kenyataan tersebut dan tetap bersama Shinta apapun keburukannya itu dapat berakibat.
Ngomong-ngomong soal Cakra, bohong jika aku bilang aku tidak suka dia. Perwakannya yang gagah namun kemampuan olahraganya yang, hm, nol memang agak aneh jika dipikir dengan nalar. Banyak perempuan yang menghengkangkan diri dari perebutan posisi menjadi pacarnya, well, tidak denganku. Justru sekarang ini Shinta sedang semangat-semangatnya menjodohkanku degan Cakra. Aku pemalu, sebenarnya. Tapi, entah bagaimana caranya, ada keyakinan dalam diriku bahwa aku bisa menjadi pembicara yang baik jika ada di dekat Cakra. Kami sepertinya ditakdirkan untuk bersama. Duh, aku mulai berlebihan, persis seperti Shinta.
“Kenapa katanya?”, aku mencoba untuk tetap tenang,mengenyampingkan perasaanku yang sudah nggak karuan. Kami masih berjalan di koridor, dari kejauhan bisa ku lihat siluet tubuh Bu Kania, gawat. “Eh itu udah ada Bu Kania ayo kita lari!”, aku mengkomando Shinta,kami berlari terbirit-birit bagai tuyul ketahuan mencuri uang jutawan. Berleihan, memang. Di antara sengalan nafas kami yang berkejaran, dapat kudengar Shinta berteriak cepat. “Lo diajak ke tenda nasi uduk! Mau makan bareng katanya!”. Seketika pipiku merona merah. Aku bertaruh, Bu Kania dari kejauhanpun dapat melihat jelas warna merah jambu dibalik keringatku yang mengucur deras. Masih tetap berlari, aku menukik tajam menuju kearah kelas dan seketika itu juga aku terduduk kelelahan. Semua mata tertuju kearahku, kebingungan. Ah Tuhan, betapa memalukannya. Shinta masuk tak lama setelah aku, turut kebingungan juga dia melihat aku menundukan wajah salah tingkah. Duh!

Kamis, 13 Juni 2013

Duh gue agak males nerusin biodata nih...
Ada ninanya sih, huh.
Stop.
Heyyoooo what's^
Pertama tama gue mau promosiin shane dawson, buat lo para jomblo, nonton aja tapi yng vlognya kalo engga liat dari channel lisbug, oke?
HAHAHHAHAH MAKAN TUH!
Sama glozell dan jenna marbles ya kawan kawan jangan di lupakan. 

Ada banyak bangetnih yang gue mau ceritain di post sekarang, tapi akan gue buat sesingkat mungkin, ya. 

1. Gue kerajingan youtube lately, dan itu bener-bener memoengaruhi gue banget. Bukannya jadi bego, pikiran gue jadi kebuka. Ya jelaslah gila, orang tiap hari adek gue masang exo-wolf sampe gue pusing jadi bego, mending gue ngeliat shane pikiran gue jadi cosplong
Plong
Plong

2. Gue sempet mau bikin fashion blog, gue kira yang diperlukan di fashion blog cuma desain kita dari polyvore atau tumblr atau we heart it doang, ternyata kitanya juga harus foto-foto toh... 
Yaelah kalo gitumah sampe sapi jadi penghasil kopi juga gue gabakal bisa. Difoto aja mata gue masih nyireng satu, ketek basah, betis aja masih nyambung omagash ini sangat patetik!!

3. Besok hari terakhir ukk dan gue lega banget. Nilai gue serahin ke Allah tapi seenggaknya gue udah usaha dan 100% murni. Yaiyalah orang gue duduk depan pengawas dan gue bukan tipe orang nekat yang mau mati sia-sia. Gaada hububungannya sih tapi yaudah lah.

4. 87 udah mau pisah, semua menangis. Kelas lain udah mau pisah, semua menangis. Gue kelaperan, semua menangis. Gue minta makan, semua menangis. Lokira kenyang makan air mata?. Kalo pendapat gue sih, kita semua udah gede bro, gausah sedih sampe segitunya, yaelah ntarnya juga idup masing-masing yekan, lo gabakal tau lagi dia ngapain, lo gabakal tau lagi dia lagi jalan sama siapa, doinya yang mana, lo bahkan-mungkin-ga bakal masuk daftar undangan kawinannya nanti......
Ya Allah, tapi hamba mau diundang ke nikahan...
*nangis*.

5. Gue kemaren mimpi gitu pokoknya di mimpi gue ada cowok gakenal sih sampe sekarang tapi gatau deh gangerti udah udah jangan dipakasa dong malu tau. Tapi gitudeh pokoknya gajelas banget. Kalo gue suka sama orang yang merely exists di mimpi gue, namanya gue gila, ya?
 
Udah deh itu dulu, nanti di update lagi kok.

BYEEEEE.



Senin, 27 Mei 2013

87 (1)

"Hello this is Dhea, is you good? Is you O.K. 'cause I want to know!"

Wow, sudah lama sekali semenjak entry terakhir.
kangen bilang ajaaaa.
mesem nih yeeee.

stop.

Jadi, nina maksa gue buat nulis entri baru, Sejujurnya gue gapunya ide, yang sekaramg gue lakuin rata-rata cuma baca, jarang banget nulis. Makanya malesbanget.com kalo disuruhnulis.com.
comcomcomcom.

 Jayus ege lo dhe.

Nah, yaudah, karena sekarang lagi jaman buat nulis biodata temen-temen sekelas, yaudah gue nulis aja dehya jugaaakk.

1. Rehan
Nama lengkap : Adam Raihan Rivai
Umur / Jenis Kelamin : Dipertanyakan
Mava : Apa aja asal hasil cipetan
Miva ; Apa aja asal hasil cipetan
Hobi : Pura-pura mati, membasmi kejahatan, ngomongin semuua yang harusnya ga diomongin, gabut, dorong-dorongan sama dimas, ngapel
Lain-lain : Sekarang lagi pura-pura jadi Nabi Palsu, dosa besar

2. Afdhal
Nama lengkap : Afdhal Kresna Aulia
Umur/Jenis Kelamin : Udah tua/Laki-laki
Mava: Beli sendiri paling nikmat
Miva : Apa aja yang berasal dari Aqua galon kelas yang dibeli sama Cynthia
Hobi : semua mainan yang ada lompat-lompatan sama lari-larian sama basah-basahannya
Lain-Lain : Pernah hampir diculik genderuwo, terus pak agus berantem sama genderuwo, pak agus menang.

3. Ai
Nama lengkap : Anargya Reyhan Alan Saputra

Umur/Jenis Kelamin : 14 kali/Laki-laki
Mava: Apaan ya. Ayam kaliya. Duh jadi mau ayam.
Miva : AIR GALON KELAS (KALO NGAMBIL SE DRIJEN) ya gapapalah namanya juga haos.
Hobi : Nangkep
Lain-Lain : Pengusaha (powerbank, bungabank, citibank)


4. Alex
Nama lengkap : Anastasia Elizabeth Alexandra

Umur/Jenis Kelamin : Lebih muda dari eik/Perempuan
Mava: buku (metafora sajah)
Miva : Air putih, pokoknya putih, soalnya waktu bagi raport alex bawa tempat minum putih isinya air.
Hobi : Semua yang berhubungan sama majas rima bolak-balik kata.
Lain-Lain : JAGO BANGET BIKIN CERITA LOOHH. Lumayan kalo ada yang mau minta jasa bikinin puisi buat pacar. Punya karangan judulnya Searching For Justice, yang gue inget, pemeran utamanya kemana-mana pake mobil chevrolet.


5. Astrid
Nama lengkap : Astrilia Valentina

Umur/Jenis Kelamin : Mirip sama Alex/Perempuan
Mava: Astrid suka beli makanan yang berbeda-beda, suka coba-coba yaaa. (ini kalo ga salah). Telor rebus!!
Miva : air putih 1 liter
Hobi : Baca komik conan
Lain-Lain : Namanya bagus, orangnya juga. Pemberani pejuang tangguh!!!!!!!!! Dalam menghadapi bu supni!!!!!!!!


7. Cindy
Nama lengkap : Cindy Natasha Lalita

Umur/Jenis Kelamin : kepo/kepo
Mava: Kepo!!!
Miva : Kepo!!
Hobi : o
Lain-Lain : iseng-iseng imut, suka bagi-bagi roti loh!!!! tapi jangan terkecoh dengan kedermawanannya yang luar biasah karena didalam hatinya dia adalah seorang kapiten pembawa pedang panjang.


8. Cynthia
Nama lengkap : Cynthia Ayu Melenia

Umur/Jenis Kelamin : 14 deh kayaknya/Perempuan
Mava: Nasi uduk+bihun+tempe orek dicampur sambel sekalian+kerupuk. Pokoknya masakan bekal.
Miva : Air mineral kaliya.
Hobi : Nemenin ke WC, manis-manisin Ma'am ijah demi kepentingan bersama
Lain-Lain : "Gajelas ego lo."


9. Dhea

Nama lengkap : Dhea Liesdi Agista

Umur/Jenis Kelamin : 13 apa 14 ya/Perempuan
Mava: Bekal duonkk
Miva : Susu coklat komeng, es teh (tapi suka dicipet huhu)
Hobi : Di bully
Lain-Lain :  "Lo mau ga jadi temen gue?" membleeh membleeh.


10. Dimas

Nama lengkap : Dimas Andriyanto (Ga pake Putra)

Umur/Jenis Kelamin : gatau/Laki laki, kali
Mava: Makanan cipetan, semua makanan kantin tapi gue sering liatnya ayam bakar
Miva : HASIL CIPETAN BARENG REHAN
Hobi : Pacaran
Lain-Lain : Hehehehe (Ketawa terus)


11. Oji

Nama lengkap : Fachrul Rozi

Umur/Jenis Kelamin : gatau/bodo amat
Mava: Gapernah makan
Miva :Nyifetin minum orang
Hobi :Ngatain orang
Lain-Lain :Bilang gue autis mulu.

  12. Fahmi

Nama lengkap : Fahmi Naufal Rizki Ganteng

Umur/Jenis Kelamin : 14 kali/LAKI DONKKKK
Mava: Dulu sih lontong sayur, sekarang gatau.
Miva : Ganteng sih jadi jarang merhatiin minum apaan, mukanya doang yang diliat.
Hobi : Belajar, promosi pulsa
Lain-Lain : Jualan pulsa namanya Fahmi Cell lagi ada promo per mei 2013, beli pulsa 5000, bayar 5000, dan seterusnya sesuai nominal.


13. Fajar Kz
YANG INI BOLEH DI SKIP, KAN? :)))))))))))))))))
DIA JAHAT DAN BANYAK DOSA DAN DAN DAN DAN DAN BANYAK.

14. Faradina
Nama lengkap : Faradina Nur Ramadhani

Umur/Jenis Kelamin : 14 ya, din?/Perempuan hitz
Mava: Kerupuk-kerupukan sama singkong-singkongan mbak momo
Miva : sumpah gue gatau jangan paksa gue otak gue ganyampe jangan paksa!!!!
Hobi : Update segala yang bisa di update
Lain-Lain : Lagi mau sendiri ajjah tapi pdkt boleh koq cantik dan dermawan

   15. Fyra
Nama lengkap : Fyra Muzdalya

Umur/Jenis Kelamin : Aduh kurang tau, tami imut banget/Perempuan
Mava: Kalo ga kembaran sama siska, ya sama salma
Miva : Dalam penyelidikan
Hobi : Baca conan, minjem Conan bergilir ke ika, ya?
Lain-Lain : Gilalo kalo ketawa sama nendang, lo bakal ga percaya akan pengelihatan lo!!! dia penah nendang pintu kamar mandi dengan kekuatan super mantap terus ketawa-ketiwi gitu. Bagus nih, buat jadi pemeran di Fast and Furious 7 atau enggak The Raid 2.

   16. Amru
Nama lengkap : Jihad Amru (Pejuang yang tangguh apa pemimpin perjuangan atau apa gitu baru dikasih tau)

Umur/Jenis Kelamin : 14?13?/laki-laki
Mava: Apa aja yang penting halal dan pake tiga jari
Miva :Apa aja asal halal dan diminum menurut sunnah
Hobi : Baca conan, ngobrolin agama, kadang suka gajelas sendiri tapi yasudahlah dimaklumi aja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa.
Lain-Lain : Kalo ngeliat gue hari jum'at gapake kerudung,suka ngedumel sendiri terus ketawa.

  17. Parjo
Nama lengkap : Jonathan Miracle Pardede

Umur/Jenis Kelamin : ga tau/ya lo taulah
Mava:Muka
Miva :Muka
Hobi :Muka, ngatain orang yang merefleksikan dirinya sendiri, baiknya musiman.
Lain-Lain :Muka,


18. Kania
Nama lengkap : Kania Meitha Nareswari (sumpah gue gatau kalo ada Nareswarinya)

Umur/Jenis Kelamin : Baru aja 14, ya? ciye mesem nihyee/Perempuan
Mava: yang enak dan ga memiliki resiko buat dicipet
Miva : Es teh, ya, Cut?
Hobi : Baca cerita romantis gitu ihiy asik sekali yahud
Lain-Lain : Suka ngusir ma'am *tuut* secara tersirat


19. Daffa
Nama lengkap : Muhammad Daffa Faisal

Umur/Jenis Kelamin : 13? 14?/Laki-laki
Mava: Katanya sih gasuka nyipet, tapikan kejahatan dilakukan bukan karena kemauan, tapi kesempatan
Miva : AQUA GALON SAMA MINUMNYA JEJE
Hobi : tomprok, becandain orang
Lain-Lain : apa, ya?


20. Luthfi
Nama lengkap : Muhammad Luthfi Arif

Umur/Jenis Kelamin : 13?/Laki-Laki
Mava:Halal dan pake tiga jari. Tapi akhir-akhir ini sering makan ayam kantin
Miva : Halal dan sesuai sunnah Rasul
Hobi : Baca conan, ngobrol sama Amru, Astril
Lain-Lain : Takut jadi imam soalnya ngeri Sholat Dzuhur kelebihan Rakaat.

   21. Hana
Nama lengkap : Nabila Hana Huriyah

Umur/Jenis Kelamin : 13?14? Han?/Perempuaan
Mava: Mirip-mirip sama dina, ya, han?
Miva :Apa aja asal sama manteman
Hobi : Basket, akhir-akhir ini agak galau.... Wajahmu kenapa tak ceria.....
Lain-Lain :Sering disiram air biar basah

   22. Intan
Nama lengkap : Ni Putu Intan Permata T.

Umur/Jenis Kelamin : 14, ya, tan?/Perempuan
Mava: Jarang liat intan makan...
Miva : Jarang liat Intan minum...
Hobi : Apa aja yang ada JBnya, baca novel, mungkin suka baca fanfic? mungkin? (GUE JUGA SUKAAAKK)
Lain-Lain : Bagus nih buat diajak berkonspirasi


Dilanjut nanti yaaa, ini harus di charge dulu kayaknyaa

mKay, TEEHEE.

Jumat, 15 Maret 2013

3


Damar
Permintaan gorengan Iwan menginterupsi segalanya. Pikiran gue menjadi buyar. Untuk sekedar tahu saja, ya. Bahkan di hukum pun gue rela asal bisa melihat cewek nggak jelas, yang tadi sempat gue ceritakan, lebih lama. Tadi seharusnya gue turun lebih dulu dari “dia”. Kelihatannya akan lebih halus kalau kita ganti panggilannya, ya. Tapi seperti ada dorongan supranatural yang membuat gue menunggu, setidaknya sedikit lebih lama untuk memastikan bahwa dia turun dengan selamat. Mungkin agak berlebihan kalau gue melakukan hal ini sampai-sampai dihukum didepan lapangan upacara. Namun gue tetap melakukan hal berlebihan tersebut, tanpa alasan jelas.
Nggak beberapa lama, handphone butut gue bergetar. Ada satu pesan masuk.
Cepet temuin gue di tenda nasi uduk. Gue nggak mau nunggu lebih lama. Ini penting.
Gue mengehla nafas cukup panjang ketika melihat pengirimnya. Karin. Satu-satunya manusia yang ngasih gue seribu alasan untuk nggak kembali kedalam hubungan, semisal pacaran. Satu-satunya cewek, yang dengan lihainya ngebuat gue yang asalnya sudah dungu, makin terlihat dungu. Makhluk yang seperti malaikat luar dalam, dan dengan teknik manipulatif yang tinggi, bisa membuat semua cowok yang melihatnya meleleh, dan setiap makhluk perempuan menatap iri, sambil meratap akan nasib mereka yang tak seberuntung seorang cewek  palsu. Bukan berarti dia cewek jadi-jadian, tapi kelakuannya memiliki tingkat kepalsuan super premium.  Dia bukan manusia, entah apa namanya, yang pasti dia bukan manusia. Karena dia nggak punya perasaan.
“Wan, lo kan sahabat gue, gue mau nanya boleh, kan?”
“Lo itu manusia yang diciptakan Tuhan untuk gue, lo itu harta sob, harta! Dan lo nggak perlu susah-susah bertanya untuk menanyakan apakah lo boleh bertanya atau a—“
“Cukup wan, cukup. Gue hanya minta jawaban, ya atau enggak.”
“Iya, boleh sayang.”
Gue menghela nafas panjang, Gimana caranya gue bisa jadi normal kalau punya temen model  lenong rumpi kayak Iwan. Gue betul-betul nggak ngerti lagi.
“Karin SMS gue, dia ngajakin gue ketemuan di tenda nasi uduk biasa. Menurut lo gue datang atau enggak?”
“Buset mar, buset!”
Gue menunggu lanjutan kehebohan Iwan.Ini yang paling gue suka dari memiliki sahabat seperti  Iwan. Dia nggak akan segan-segan untuk membela gue, bahkan sampai memaki-maki cewek tercantik se-angkatan. Sumpah, walaupun nantinya Iwan menjadi tidak waras atau sejenisnya, dan nggak ada satupun yang mau mengakui dia, gue akan tetap setia disampingnya. Di belakangnya juga tidak masalah.
“Buset mar! Ini gorengan kok sedap amat ya. Gorengnya pake plastik kali, ya. Renyah di luar, lembut didalam!”
Buset. Kalau nanti Iwan benar menjadi gila,walaupun ia memaki gue dialam bawah sadarnya, gue akan tetap di sampingnya. Namun sambil teriak, “AWAS! BERI JALAN! ORANG GILA MAU LEWAT!”
Setelah pertimbangan yang cukup panjang, gue dengan setengah hati melangkah ke tenda nasi uduk di daerah Rawamangun. Tempat yang Karin nyatakan sebagai tenda spesial milik kami berdua. Yang selanjutnya gue ketahui bahwa bukan milik kami berdua saja, gue harus membaginya bersama cowok-cowok lain yang Karin anggap sama spesialnya. Untuk ukuran cewek SMA kaya dengan wajah cantik, Karin sama sekali nggak cocok untuk makan di tenda begini. Tapi dia sengaja. Sengaja menunjukkan kesan bahwa dia adalah cewek yang manis dan nggak membeda-bedakan. Cewek kaya rendah hati yang cerdas dan sempurna. Dan topeng itu berhasil dia pertahankan dari dulu hingga kini, dan mungkin selamanya. Dia nggak cocok dapetin laki-laki manapun, dia nggak berhak. Dia memilih takdirnya untuk merendahkan semua orang, dari sanalah nanti orang-orang memiliki alasan untuk mulai merendahkannya, sebesar dia merendahkan diri orang lain dan tanpa sengaja dirinya sendiri.
“Damar! Aku kangen mar, kangen!”, gue dapati Karin disana, sedang menyesap minuman yang sepertinya baru saja ia pesan. Bisa kutebak, itu lemon tea. Kecut tapi manis, sama seperti kepribadiannya. Bedanya, lemon tea adalah sesuatu yang manis namun diberi rasa asam agar lebih segar, sedangkan Karin merupakan sesuatu yang masam namun diberi kemanisan, membuatnya ta,pak menyegarkan padahal nantinya membuahkan penyesalan.
“Mau ngapain lagi lo?”, gue berjalan kearah Karin, mengumpulkan seluruh nyali gue. Tadinya gue mau memaki dia, tapi hasil dari keberanian gue hanya 4 kata tersebut.  “Iiih judes banget sih, aku-kan cuma mau ketemu kamu ajaaa”, Karin merajuk dengan suara yang sengaja dibuat panjang. Dulu gue suka , sekarang itu terdengar menjijikan.
“Pesen makanan dulu, sana. Habis itu ada yang mau aku omongin. Kamu lagi luang kan? Nggak sibuk?”. Rasanya gue mau bilang kalau gue ada PR sejuta, habis itu harus ambil jam tambahan di 5 tempat, terus nganterin Iwan ke salon buat cukur poni, atau apapun yang bisa membuat gue terlihat sibuk. Tapi sayangnya, ini hari pertama sekolah. Gue habis dihukum dan langsung disuruh pulang,jadi nggak mungkin ada PR apapun yang gue ketahui. Lagipula Iwan juga nggak punya poni. “Yaudah, tunggu sebentar”, gue setengah berlari ke tempat pemilihan ayam dan tahu. Sistem di tenda ini beda dari yang lain, kita mengambil semuanya sendiri, lalu nanti mita abangnya untuk menggoreng. Rasanya menyenangkan untuk nggak terlalu dekat dengan Karin. Walaupun jarak kami sekarang hanya 5 meter, seenggaknya gue tidak perlu melihat wajahnya, yang sama saja denga gue nggak perlu melihat kepalsuannya.
Gue kembali setelah 3 menit, dengan nasi uduk, sambal goreng dan sambal kacang, 2 potong tahu, paha ayam dan lalapan. “Udah, sekarang lo mau ngomongin apa?”, gue bertanya ke Karin, pura-pura nggak sadar kalau dia sama sekali tidak makan, pura-pura tidak memberikan perhatian yang justru dari tadi aku berikan. “Gue putus, Mar. Gue putus sama Niko.” Sama sekali nggak penting. Terus apa masalah gue kalau dia putus? Apa gue harus tanggung jawab?. “Hm, terus?”, sialan. Harusnya gue bisa ngomong lebih dari itu. Harusnya gue nggak se-pengecut ini.





nah baru sampe situ wkwwkwk-_- yang punya usul kritik saran, gue menerima semuanya kok karena gueh baekh sekalehh.